Procurement Adalah: Pengertian, Proses, dan Jenis

procurement adalah

TL;DR

Procurement adalah proses pengadaan barang dan jasa secara menyeluruh, mulai dari identifikasi kebutuhan, seleksi vendor, negosiasi, hingga pencatatan transaksi. Berbeda dengan purchasing yang hanya mencakup proses beli-bayar, procurement bersifat strategis dan jangka panjang. Ada dua jenis utama: direct procurement (berkaitan langsung dengan produksi) dan indirect procurement (kebutuhan operasional). Proses yang baik mengikuti tujuh prinsip: efisien, efektif, transparan, terbuka, bersaing, adil, dan akuntabel.

Banyak orang menyamakan procurement dengan purchasing, padahal keduanya berbeda cukup jauh dalam praktiknya. Seorang staf purchasing mengeksekusi pembelian yang sudah disetujui, sementara tim procurement yang memutuskan dari vendor mana barang dibeli, dengan harga berapa, dan kontrak seperti apa. Procurement adalah keseluruhan sistem di balik setiap pembelian yang dilakukan perusahaan.

Untuk perusahaan yang baru membangun divisi pengadaan, atau siapa pun yang ingin memahami alur kerja bagian ini, penjelasan berikut mencakup pengertian, proses, jenis, dan prinsip yang perlu diketahui.

Apa Itu Procurement?

Procurement adalah proses pengadaan barang atau jasa yang dibutuhkan perusahaan untuk menjalankan operasionalnya, mulai dari identifikasi kebutuhan, pemilihan pemasok, negosiasi harga dan kontrak, pemesanan, penerimaan barang, pembayaran, hingga pencatatan seluruh aktivitas tersebut. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini sering disebut sebagai pengadaan barang dan jasa.

Cakupannya lebih luas dari sekadar membeli. Procurement mencakup pertanyaan-pertanyaan strategis seperti: apakah lebih baik membeli atau menyewa? Vendor mana yang paling andal untuk kontrak jangka panjang? Bagaimana menekan biaya pengadaan tanpa menurunkan kualitas? Tim yang mengelola fungsi ini bukan hanya mengurus transaksi, tapi juga menjaga keberlanjutan supply chain perusahaan.

Perbedaan Procurement dan Purchasing

Purchasing adalah bagian dari procurement, bukan padanannya. Kalau procurement mencakup seluruh siklus pengadaan dari awal hingga evaluasi vendor, purchasing hanya mencakup tahap eksekusi pembelian: menerbitkan purchase order (PO), menerima barang, dan memproses pembayaran.

Analoginya seperti ini: procurement adalah seluruh proses merekrut karyawan baru, mulai dari analisis kebutuhan, wawancara kandidat, negosiasi gaji, hingga onboarding. Purchasing hanya bagian penandatanganan kontrak dan pembayaran gajinya saja. Dua hal yang berkaitan, tapi beda ruang lingkup.

Perbedaan ini penting karena banyak perusahaan kecil yang menggabungkan kedua fungsi ini dalam satu divisi. Tidak ada yang salah dengan itu, tapi pemahaman yang jelas tentang mana yang strategis dan mana yang operasional akan membantu dalam pembagian tanggung jawab tim.

Jenis-Jenis Procurement

Secara umum, procurement dibagi berdasarkan hubungannya dengan proses produksi dan jenis aset yang diadakan.

Direct Procurement

Direct procurement adalah pengadaan barang atau bahan yang langsung digunakan dalam proses produksi. Contohnya: pabrik tekstil yang membeli benang dan kain, atau pabrik makanan yang mengadakan tepung dan bahan baku lainnya. Pengadaan ini biasanya bersifat rutin dan berdampak langsung pada kualitas serta biaya produk akhir.

Indirect Procurement

Indirect procurement mencakup semua pengadaan yang mendukung operasional perusahaan tapi tidak masuk ke dalam produk. Alat tulis kantor, layanan kebersihan, perangkat komputer, hingga jasa konsultasi hukum termasuk kategori ini. Nilai per transaksinya sering lebih kecil, tapi frekuensinya bisa sangat tinggi sehingga totalnya signifikan terhadap anggaran.

Goods Procurement dan Services Procurement

Selain pembagian di atas, procurement juga dibedakan berdasarkan bentuknya. Goods procurement adalah pengadaan barang fisik, baik yang masuk ke produksi maupun yang digunakan operasional. Services procurement adalah pengadaan layanan jasa, seperti kontraktor, jasa keamanan, atau firma hukum. Perbedaan ini relevan karena kontrak, metode evaluasi, dan cara penerimaan keduanya berbeda.

Proses Procurement dari Awal Hingga Akhir

Setiap perusahaan punya variasi prosedur tersendiri, tapi secara umum alur procurement berjalan melalui tahapan berikut.

  1. Identifikasi kebutuhan. Divisi yang memerlukan barang atau jasa mengajukan permintaan ke tim procurement. Tim ini lalu menganalisis apakah permintaan sesuai dengan anggaran dan prioritas perusahaan.
  2. Pengajuan purchase request (PR). Setelah kebutuhan tervalidasi, dibuatlah dokumen permintaan pembelian yang merinci spesifikasi, jumlah, dan estimasi anggaran. Dokumen ini membutuhkan persetujuan dari pihak berwenang sebelum proses berlanjut.
  3. Seleksi vendor. Tim procurement mencari, mengevaluasi, dan membandingkan beberapa kandidat pemasok berdasarkan kredibilitas, kualitas, harga, dan rekam jejaknya. Tahap ini bisa melibatkan proses tender terbuka atau penunjukan langsung, tergantung nilai dan jenis pengadaan.
  4. Negosiasi dan kontrak. Setelah vendor terpilih, kedua pihak menegosiasikan harga, jumlah, jadwal pengiriman, dan syarat pembayaran. Kesepakatan dituangkan dalam kontrak yang mengikat secara hukum.
  5. Penerbitan purchase order (PO). PO adalah dokumen resmi yang dikirimkan perusahaan ke vendor sebagai konfirmasi pemesanan. Dokumen ini memuat detail lengkap pesanan dan menjadi acuan bagi kedua pihak.
  6. Penerimaan dan verifikasi barang/jasa. Saat barang tiba, tim procurement memeriksa kesesuaiannya dengan PO: kuantitas, spesifikasi, dan kondisi fisiknya. Jika ada ketidaksesuaian, vendor wajib memberikan klarifikasi atau penggantian.
  7. Pembayaran. Setelah barang diterima dan diverifikasi, invoice dari vendor diproses dan pembayaran dilakukan sesuai kesepakatan kontrak.
  8. Pencatatan dan evaluasi. Seluruh dokumen pengadaan diarsipkan untuk keperluan audit. Setelah satu siklus selesai, kinerja vendor dievaluasi sebagai bahan pertimbangan pengadaan berikutnya.

Tahap yang paling sering diabaikan adalah evaluasi akhir. Banyak tim procurement berhenti setelah pembayaran selesai, padahal data historis kinerja vendor adalah salah satu aset paling berharga untuk negosiasi di periode berikutnya.

Tujuh Prinsip Pengadaan Barang dan Jasa

Baik di sektor swasta maupun pemerintahan, manajemen pengadaan yang baik mengacu pada tujuh prinsip dasar. Prinsip-prinsip ini diakui oleh Biro Pengadaan Barang dan Jasa pemerintah daerah sebagai pedoman pelaksanaan pengadaan yang bertanggung jawab.

  • Efisien: mendapatkan barang atau jasa dengan kualitas yang diinginkan menggunakan anggaran seminimal mungkin.
  • Efektif: hasil pengadaan benar-benar memenuhi kebutuhan dan spesifikasi yang sudah ditetapkan.
  • Transparan: semua informasi terkait pengadaan, mulai dari spesifikasi hingga dasar hukumnya, dapat diakses secara luas.
  • Terbuka: semua vendor yang memenuhi syarat diberi kesempatan yang sama untuk ikut dalam proses seleksi.
  • Bersaing: proses seleksi menciptakan kompetisi sehat tanpa intervensi yang memenangkan pihak tertentu.
  • Adil: semua calon vendor diperlakukan setara tanpa diskriminasi.
  • Akuntabel: seluruh proses dapat dipertanggungjawabkan sesuai aturan yang berlaku.

Ketujuh prinsip ini bukan sekadar formalitas. Pelanggaran terhadap prinsip transparansi atau keadilan dalam seleksi vendor, misalnya, bisa berujung pada masalah hukum serius, terutama di lingkungan perusahaan BUMN dan instansi pemerintah yang tunduk pada regulasi LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah).

Tugas dan Tanggung Jawab Divisi Procurement

Secara garis besar, tugas bagian procurement mencakup sembilan hal utama: membuat standar kebutuhan barang dan jasa, menyusun perencanaan pengadaan, mencari dan menyeleksi vendor, menganalisis surat penawaran, melakukan negosiasi, membuat kontrak, menerima dan memverifikasi barang, memproses pembayaran, serta mengarsipkan seluruh dokumen pengadaan.

Di luar pekerjaan teknis itu, satu tanggung jawab yang sering kurang terlihat tapi sama pentingnya adalah menjaga hubungan jangka panjang dengan vendor strategis. Vendor yang sudah memahami standar perusahaan, pola pemesanan, dan ekspektasi kualitasnya jauh lebih bernilai daripada vendor baru dengan harga lebih murah tapi rekam jejaknya belum teruji.

E-Procurement: Proses Pengadaan Berbasis Digital

E-procurement adalah penerapan sistem pengadaan barang dan jasa secara elektronik, memanfaatkan platform digital untuk menjalankan seluruh atau sebagian proses procurement. Alih-alih menggunakan dokumen fisik dan pertemuan tatap muka, semua tahapan mulai dari pengajuan permintaan, lelang vendor, hingga penerbitan PO dilakukan melalui sistem terintegrasi.

Manfaat utamanya ada di kecepatan dan transparansi. Persetujuan dokumen yang biasanya memakan beberapa hari karena harus berpindah tangan secara fisik bisa diselesaikan dalam hitungan jam. Selain itu, seluruh riwayat transaksi tersimpan otomatis, sehingga proses audit menjadi jauh lebih mudah dibandingkan sistem manual berbasis kertas.

Indonesia sudah mengadopsi sistem ini, terutama untuk pengadaan di instansi pemerintah melalui platform resmi yang dikelola LKPP. Di sektor swasta, banyak perusahaan menggunakan modul procurement yang terintegrasi dalam sistem ERP mereka.

Mengapa Procurement Penting bagi Perusahaan?

Bagi perusahaan dengan skala operasional besar, biaya pengadaan bisa menyumbang porsi signifikan dari total pengeluaran. Manajemen pengadaan yang efisien secara langsung menekan biaya produksi dan meningkatkan marjin keuntungan.

Tapi nilainya bukan hanya soal penghematan. Procurement yang dikelola dengan baik juga menjamin ketersediaan bahan baku dan sumber daya tepat waktu, sehingga operasional tidak terganggu. Keterlambatan pengadaan komponen kritis, misalnya, bisa menghentikan lini produksi dan menimbulkan kerugian yang jauh lebih besar dari selisih harga vendor.

Dengan memahami apa itu procurement dan bagaimana prosesnya bekerja, perusahaan bisa membangun sistem pengadaan yang tidak hanya efisien secara biaya, tapi juga tangguh menghadapi gangguan supply chain.

Scroll to Top